Mengatasi perbedaan dengan pasangan

10-7_terenceKetika sedang belajar mengenai konseling keluarga, ada satu contoh kasus menarik, lucu, sekaligus terasa tidak masuk akal, yang terus saya ingat hingga sekarang.  Dikisahkan sepasang suami istri memutuskan untuk bercerai; dan setelah ditanya mengenai penyebabnya, sang istri mengatakan: “Dia (sang suami) selalu mengeluarkan pasta gigi sembarangan.”  Merasa tidak terima, sang suami langsung menyahut, “Bukan sembarangan!  Dia yang terlalu perfeksionis!  Dia selalu MENGHARUSKAN mengeluarkan pasta gigi dari bawah!”

Sungguh konyol bukan?  Nah, anggap saja kisah di atas hanyalah sebuah ilustrasi.  Akan tetapi konsep yang sama, dapat kita lihat di topik-topik yang lain.  Pihak yang satu berharap, hari ulang tahun adalah sebuah momen spesial yang harus dipersiapkan dengan baik untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang spesial.  Namun di hari itu, pasangannya hanya mengucapkan selamat ulang tahun melalui handphone.  Sang ibu menekankan bahwa anaknya harus berani bermain sendiri dan aktif menyapa dan tersenyum ketika bertemu dengan orang lain.  Namun sang ayah merasa, bahwa walaupun hal-hal itu adalah baik, tapi tidak perlu mendapatkan prioritas yang berlebihan.

Perbedaan-perbedaan ini dapat berada di topik yang lebih abstrak, seperti: perbedaan ekspektasi tentang arti keintiman di antara sepasang suami istri, perbedaan ekspektasi mengenai arti kemapanan, tubuh atau hidup yang sehat, dan seterusnya.  Perbedaan-perbedaan ekspektasi ini dapat menghancurkan keutuhan rumah tangga yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Saya selalu mengajarkan bahwa pernikahan bukanlah seperti menaruh buah apel dan buah jeruk di keranjang yang sama.  Itu hanya akan berarti sekedar tinggal serumah.  Pernikahan berarti mem-blender kedua buah itu dan mencampurnya sehingga menciptakan sebuah rasa yang baru.  Jadi pernikahan adalah sebuah media yang dipakai Tuhan untuk melatih kita mengatasi perbedaan dalam situasi yang terberat (hidup & tinggal serumah sebagai “satu tubuh”).

Tetapi apakah semua perbedaan dapat menghasilkan konflik yang tajam seperti itu?

Bagi saya, tidak.  Dalam relasi, sebuah perbedaan ekspektasi dapat menjadi konflik yang tajam ketika mengandung kekhawatiran yang didasarkan di atas sudut pandang masing-masing.

Perbedaan ekspektasi di hari ulang tahun tadi, mungkin saja didasarkan atas kekhawatiran kehilangan keromantisan ketika usia pernikahan makin tua, yang berarti menjalani pernikahan yang terasa “hambar”.  Perbedaan keterampilan yang harus dikuasai oleh anak, mungkin saja didasarkan atas kekhawatiran atau keapatisan mengenai masa depan anak itu.

Intinya yang merupakan sumber konflik bukan sekedar perbedaan itu, melainkan kekhawatiran yang ada dibalik perbedaan sudut pandang itu.  Karena itu menemukan sumber rasa kuatir itu sangatlah penting dalam usaha untuk mengatasi maupun mengantisipasi sebuah konflik.

Asal rasa kuatir

Kekhawatiran timbul ketika otak kita mulai merasa bahwa suatu hal di masa depan tidak lagi aman atau dapat diandalkan.  Ketika kita memiliki definisi kemapanan yang berbeda, hal itu cenderung menyebabkan masa depan terasa tidak aman.  Ketika kita memiliki arti yang berbeda mengenai tubuh atau hidup yang sehat, kepastian untuk tetap terbebas dari sakit penyakit di masa depan menjadi mengecil.  Hal inilah yang sangat berpotensi menimbulkan kekhawatiran.

Ketika rasa khawatir timbul, maka otak kita akan memasuki “mode perang”.  Ia akan memerintahkan seluruh fungsi tubuh dan mental kita untuk bertahan dengan menutup diri atau bertahan dengan menyerang pihak yang kita persepsi sebagai sumber ancaman.  Itu sebabnya, jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan-perbedaan yang menimbulkan kekhawatiran ini akan membuat Anda dan saya, menjadi lebih agresif, berkomunikasi dengan intonasi yang tajam atau bahkan menggerutu, dan lain sebagainya.

Bagaimana mengantisipasi perbedaan-perbedaan itu

Setiap preferensi sudut pandang yang kita miliki, timbul dari proses belajar bertahun-tahun yang telah kita lakukan, baik dengan sadar ataupun tidak, di masa lalu.  Preferensi sudut pandang ini berperan besar dalam otak kita mengkategorikan hal-hal apa yang disebut dengan benar, tepat, baik, dan salah, meleset, atau buruk.

Karena itu langkah awal untuk menyelesaikan konflik atau mengantisipasinya adalah dengan membicarakan secara jelas dan terbuka mengenai kekhawatiran-kekhawatiran mendasar yang kita rasakan di balik perbedaan-perbedaan itu.

Di Power Character kami dapat membantu Anda dengan langkah-langkah yang sistematis dan efektif untuk mengantisipasi dan menyelesaikan konflik sesuai keunikan karakter masing-masing pihak.  Namun secara umum, beberapa hal ini dapat Anda lakukan ketika hendak mengantisipasi atau menyelesaikan sebuah konflik:

  1. Akui perbedaan di antara Anda
  2. Evaluasi dan akui kekhawatiran yang Anda rasakan
  3. Jelaskan kekhawatiran yang Anda rasakan itu dengan jelas dan gamblang
  4. Dengarkan lawan bicara Anda ketika ia sedang menjelaskan hal yang sama
  5. Temukan cara untuk mengantisipasi kekhawatiran Anda berdua.

pc-logo

Informasi lebih lanjut mengenai layanan Power Character untuk membantu Anda dalam mempersiapkan kualitas pernikahan maupun meningkatkan kualitas keharmonisan keluarga Anda, silahkan klik di sini.

Penulis adalah kepala divisi pengembangan di Power Character, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Human Resource and Character management system, Character and leadership coach yang berkantor pusat di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s