Ternyata gaji/income bukan penentu utama “engagement” karyawan

what-is-employee-engagementSebuah penelitian yang dilakukan pada awal dan akhir tahun 2015 di Jerman, menunjukkan bahwa menurut pandangan para pekerja, kondisi perekonomian mereka secara umum sedang dalam kondisi yang cukup baik.  Sekitar 57% dari hampir 1500 responden mengatakan bahwa kualitas hidup mereka berada di atas status “sekedar bertahan” (Thriving. Not merely surviving).  77% setuju atau bahkan sangat setuju bahwa perusahaan mereka memiliki masa depan yang sangat baik.  Bukan hanya itu, 73% mengatakan cukup puas dengan perusahaan tempat mereka bekerja, dan sekitar 64% setuju bahwa mereka menerima kompensasi (gaji, bonus, dst) yang setimpal.

Walaupun demikian, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa 68% dari para responden tidak memiliki engagement yang baik teradap perusahaan maupun pekerjaan mereka.  48% merasa stres.  69% merasa tidak produktif.  89% cenderung merasa bosan, jenuh, atau tidak gembira dalam melakukan pekerjaan mereka selama seminggu terakhir, dan 58% merasa kelelahan, kepayahan, atau burn out selama sebulan terakhir.

Dampak dari para pekerja yang tidak engage ini, antara lain adalah: meningkatnya jumlah hari tidak masuk mereka, 97% merasa tidak akan merekomendasikan perusahaan tempat mereka bekerja kepada keluarga atau teman-teman mereka, bahkan 85% merasa cenderung tidak akan merekomendasikan produk atau jasa perusahaan tempat mereka bekerja ke orang lain.  Ini artinya, kelompok ini cenderung tidak akan memberikan seluruh kemampuan, pikiran, tenaga, dan passion dalam pekerjaan mereka.

Apakah data statistik ini, secara konsep, dapat berlaku juga di Indonesia? Menurut saya, hal ini tergantung pada profil para pekerja Anda, terutama profil status ekonomi dan tingkat keterampilan yang mereka miliki.

Penelitian tadi juga menyebutkan bahwa 80% responden merencanakan akan keluar dari perusahaan tempat mereka bekerja sekarang, kurang dari 3 tahun.  14% di antaranya bahkan sedang aktif mencari lowongan pekerjaan baru.  Hal ini dapat terjadi di perusahaan Anda, jika profil orang-orang yang bekerja di perusahaan Anda adalah dari golongan ekonomi menengah ke atas dan termasuk memiliki keterampilan (hard & soft skills) yang cukup tinggi.

Akan tetapi saya menemui bahwa hal yang sama tidak terlalu berlaku ketika profil orang-orang yang bekerja di perusahaan Anda adalah dari golongan ekonomi menengah ke bawah dan tidak memiliki keterampilan yang cukup tinggi.  Bagi kelompok ini, dari pengamatan saya, gaji masih menempati prioritas utama dalam menentukan loyalitas mereka.

Walaupun demikian hal yang tetap berlaku baik di kalangan menengah ke atas maupun menengah ke bawah dan dari kelompok yang memiliki keterampilan yang tinggi maupun yang rendah adalah ketika mereka tidak memiliki engagement yang cukup tinggi terhadap pekerjaan dan perusahaan mereka, maka mereka akan cenderung tidak akan memberikan seluruh kemampuan, pikiran, tenaga, dan passion dalam pekerjaan mereka.

Lalu bagaimana meningkatkan engagement karyawan?

Tentu saja saya tidak dapat menjelaskan secara detail apa yang saya dan rekan-rekan saya lakukan di Power Character.  Akan tetapi secara umum, program yang di sengaja dan yang bertujuan memperlakukan mereka sebagai manusia seutuhnya akan memberikan dampak yang lebih efektif (dan terkadang bahkan lebih murah) daripada sekedar memberikan remunerasi yang besar (gaji dan fasilitas).

Manusia bukanlah mesin

Untuk menjaga kinerja sebuah mesin agar tetap optimal, ia hanya perlu diberi oli atau bahan bakar atau mungkin dibersihkan secara berkala.  Tidak demikian halnya dengan manusia.  Gaji yang Anda berikan atau mereka terima, mungkin memang adalah kebutuhan paling mendasar.  Gaji itu akan mereka ubah (convert) menjadi kebutuhan asupan/makanan, tempat tinggal, pakaian, biaya pendidikan anak, dan kebutuhan-kebutuhan mendasar lainnya.  Akan tetapi bukan hanya hal-hal itu saja yang dibutuhkan oleh seorang manusia.

Ia memiliki kebutuhan psikologis untuk dipuji, diperhatikan, dipandang berkemampuan, dan seterusnya.  Ia juga memiliki kebutuhan spiritual yang diberikan Tuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti: “Untuk apa aku diciptakan?”, “Hal terbaik apa yang dapat aku sumbangsihkan bagi dunia atau orang-orang di sekitarku?”, dan seterusnya.  Jawaban-jawaban dari pertanyaan dan kebutuhan psikologis dan spiritual inilah yang memiliki peran besar dalam membangun rasa berharga, rasa percaya diri, loyalitas, dan seberapa penuh ia akan terlibat atau engage dengan fungsi kerja yang diembannya atau tujuan perusahaan.

Bersikaplah sebagai seorang manusia, bukan mesin

Entah Anda menduduki posisi kepemimpinan tertinggi, manajer, supervisor, atau hanya seorang staff, atau bahkan karyawan harian, bersikaplah sebagai seorang manusia.  Maksud saya bukan dalam hal tuntutan untuk dipahami dan ditoleransi jika kita melakukan kesalahan, akan tetapi bersikaplah seperti seorang manusia kepada rekan-rekan Anda.

Perhatikan kebutuhan psikologis mereka.  Perhatikan apakah mereka sedang jenuh, mengalami masalah di keluarga, sedang sakit, khawatir akan suatu hal, mengalami kesulitan dalam mengerjakan tanggung jawab tertentu, dan seterusnya.  Jadilah sahabat karib bagi beberapa rekan Anda, sehingga Anda dapat membicarakan dan saling memberikan perhatian yang lebih dalam menjangkau kebutuhan spiritual mereka.  Saling “curhat” dan berbagilah mengenai cita-cita Anda, harapan Anda untuk anak, keluarga, atau bahkan orang tua Anda yang makin mendekati usia pensiun.  Doakan mereka dengan sungguh-sungguh dan mintalah Tuhan memberkati bukan hanya karier mereka, tapi juga seluruh aspek kehidupan mereka.

Hal-hal yang bersifat manusiawi inilah yang akan lebih efektif meningkatkan engagement di antara rekan sekerja, serta dari karyawan kepada tujuan atau visi dan misi perusahaan.  Ketika Anda, entah sebagai pemimpin maupun yang dipimpin, dapat turut aktif menjadikan perusahaan Anda sebagai sebuah keluarga atau sebagai anggota tubuh yang saling diikat oleh visi, misi, dan nilai/budaya kerja yang sama, maka tiap-tiap anggota akan mendapatkan manfaatnya masing-masing.

cropped-pc-logo.png

Informasi lebih lanjut mengenai layanan Power Character untuk membantu Anda melakukan assessment maupun menolong meningkatkan level engagement bagi perusahaan, para pemimpin di perusahaan atau organisasi Anda, maupun keluarga Anda, silahkan klik di sini.

Penulis adalah kepala divisi pengembangan di Power Character, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Human Resource and Character management system, Character and leadership coach yang berkantor pusat di Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s