Anda terbiasa memberi makan emosi pasangan Anda?

2-1Suatu malam saya baru saja pulang dari perjalanan bisnis selama setengah minggu.  Seperti biasa, begitu sampai di rumah, saya memanggil anak saya dengan panggilan khusus: “Anaknya pop!” dan Aletha (putri saya yang berumur 4 tahun) langsung berteriak membalas panggilan saya dari dalam rumah “Popiii!”.  Setelah saya selesai mandi, tiba waktunya untuk menemani Aletha tidur.  Sebelum saya naik ke tempat tidur, saya duduk di ujung ranjang, minum air putih dari botol minum besar yang biasa kami tempatkan di samping ranjang dan menghela nafas agak panjang.

“Kenapa yang?” istri saya bertanya.
“Nggak papa.  Cuma capek.” jawab saya.  “Capek kenapa?” tanya istri saya lagi.  Kemudian kami berbincang beberapa menit, sebelum akhirnya kami menemani Aletha tidur.

Perbincangan singkat itu, walaupun tidak serta merta membuat kelelahan saya hilang, namun membuat saya selalu bersyukur karena telah memiliki pasangan hidup; dan disadari atau tidak, pemenuhan-pemenuhan kebutuhan emosi yang kecil namun sering kali itulah yang bukan hanya mempertahankan, namun memperkuat kualitas keintiman di dalam keluarga kami.

Bagaimana bisa?  Inilah alasan ilmiahnya.

Beberapa tahun yang lalu Dr. John Gottman, seorang peneliti dalam hal relasi, mengadakan penelitian yang menunjukkan bahwa setelah 6 tahun menikah, para pasangan yang masih menikah, terbiasa mendengarkan dan memenuhi sekitar 86% dari kebutuhan emosi pasangannya.  Sedangkan para pasangan yang bercerai, hanya mendengarkan dan memenuhi sekitar 33% dari kebutuhan emosi pasangannya.

Mungkin karena perceraian masih adalah hal yang cukup tabu di antara budaya sebagian besar orang Indonesia (kecuali di kalangan para selebriti sepertinya), jadi korelasi antara pemenuhan kebutuhan emosi dengan keberlangsungan pernikahan tidak terlalu terlihat.  Akan tetapi penelitian Dr. John Gottman ini sejalan dengan cara kerja otak manusia.  Karena itu, secara prinsip, jelas dapat diaplikasikan di manapun.

Tiga cara umum fungsi proses otak

Setiap manusia memiliki bagian otak yang berfungsi untuk memproses akal logis, emosi, dan reaksi-reaksi insting (seperti refleks terhadap sesuatu yang dipersepsi sebagai bahaya atau bau sedap yang dipersepsi sebagai makanan enak yang akan menimbulkan kenyamanan).

Sering kali ketika secara insting kita merasa terancam atau terdapat sebuah situasi atau pemikiran yang belum dapat kita terima, akal logis dan insting kita belum dapat memberikan petunjuk yang jelas.  Namun emosi kita telah memberikan indikasi dengan memunculkan perasaan-perasaan seperti marah, lelah, khawatir, dan seterusnya.  Emosi-emosi seperti inilah yang disebut dengan “kebutuhan emosi” di dalam penelitian Dr. John Gottman tadi.

Beberapa emosi ini, dapat tampak sangat menonjol, apalagi di dalam diri orang-orang yang cenderung sangat ekspresif (misalnya dengan berkata dengan keras: “Aduh, Jengkel aku!”).  Akan tetapi beberapa emosi ini dapat terlihat sangat kecil atau tidak terlalu jelas, terutama di dalam diri orang-orang yang cenderung suka “memendam perasaan.”  Dalam contoh pengalaman pribadi yang saya tuliskan di atas, saya termasuk orang dengan karakter yang cenderung “memendam perasaan.”  Itu sebabnya sering kali saya belum dapat mengetahui apa sesungguhnya yang membuat saya resah atau merasa lelah.  Itu sebabnya saya hanya dapat mengekspresikannya dengan menghela nafas panjang.

Ketika otak emosi kita memberikan tanda-tanda negatif seperti itu, tubuh kita secara otomatis dipaksa masuk ke dalam keadaan siaga, seperti sedang menghadapi ancaman (misalnya berdiri di depan singa yang sedang lapar).  Pada saat seperti ini, metabolisme kita akan cenderung turun dan mengalihkan seluruh energi yang ada untuk mencari jalan keluar secepat mungkin.  Inilah yang menyebabkan kita, di saat seperti ini, cenderung lebih emosional, mudah marah, mudah khawatir, mudah tersinggung, dan lain sebagainya.  Inilah yang memicu pertengkaran-pertengkaran “kecil” atau “mendadak”, yang jika tidak dikelola dengan baik, akan menjadi “pertengkaran besar” dalam pernikahan atau keluarga Anda.

Kebiasaan-kebiasaan yang menghancurkan

Ketika pasangan Anda menghela nafas atau mengomel dengan mengatakan: “duh!”, kemungkinan besar, itu adalah saat-saat di mana ia sedang mengekspresikan kebutuhan emosinya.  Jika Anda menanggapinya dengan: diam dan mengabaikannya (seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi) atau menyerang balik (misalnya dengan berkata dengan Tonasi kejengkelan: “Ada apa lagi? “), maka Anda sedang tidak membantu pasangan Anda mengembalikan emosinya dari kondisi siaga menuju ke kondisi normal.  Akibatnya otaknya akan cenderung mempersepsi Anda sebagai “lawan” (sebagai lawan dari “kawan”), yaitu pasangan yang tidak peduli atau bahkan memperparah kondisi emosinya.

Bagaimana memberi makan emosi pasangan Anda

Di Power Character kami dapat membantu Anda menemukan kebutuhan-kebutuhan emosi Anda dan pasangan Anda yang unik sesuai pola karakter Anda berdua.  Kami bahkan dapat memprediksi, apa yang Anda atau pasangan Anda cenderung pikirkan, rasakan, dan butuhkan secara mental ketika menghadapi tantangan atau tekanan, sesuai kecenderungan karakter Anda berdua.

Akan tetapi secara umum, beberapa kebiasaan ini akan dapat membantu Anda untuk dapat saling memberi “makan emosi” antara Anda dan pasangan Anda.

  1. Buatlah komitmen untuk saling melayani dalam keadaan apapun
    Sungguh mudah melayani pasangan kita, ketika kita sendiri dalam keadaan relatif baik-baik saja (tidak sedang lelah, jenuh, dikejar oleh tugas/tanggung jawab yang lain, dst.).  Akan tetapi sungguh sangat sulit melayani pasangan kita, ketika diri kita sedang berada dalam tekanan.  Keadaan ini akan makin sulit, jika kita saling menunggu pasangan kita yang melayani kita terlebih dahulu.  Oleh karena itu akan sangat efektif jika masing-masing pihak membuat dan mengucapkan komitmennya untuk saling melayani dalam kondisi apapun.
  2. Dengan sengaja, biasakan diri untuk mendengarkan keluhan pasangan Anda
    Seperti yang telah saya singgung di atas, keluhan-keluhan ini dapat berupa keluhan yang sangat jelas (misalnya: “Duh, aku capek hari ini.”), namun juga dapat berupa keluhan yang kurang jelas (seperti menghela nafas, misalnya).  Karena itu dengan sengaja, biasakan diri Anda untuk mendengarkan keluhan pasangan Anda.  Ini jelas bukan hal yang mudah.  Karena itu Anda harus dengan sungguh-sungguh mengambil komitmen untuk belajar melakukannya dengan disiplin.
  3. Beri tanggapan yang sesuai.  Jangan menyerang, mengabaikan, atau menceramahi
    Sembari Anda berusaha memahami apa yang pasangan Anda butuhkan, jadilah “kawan sependeritaan” yang baik.  Utamakan untuk mengekspresikan bahwa Anda memahami atau bahkan dapat ikut merasakan ketidaknyamanan yang ia sedang alami.  Jadilah seorang konselor yang penuh empati baginya.  Jadilah seorang teman bicara yang nyaman diajak bicara baginya.  Anda dapat memulainya dengan menanyakan: “Kenapa kamu menghela nafas?” atau “Apa ada yang kamu khawatirkan?” atau “Apa kamu merasa khawatir?” atau “Kenapa kamu merasa lelah” dan seterusnya.

    Tanggapan-tanggapan seperti ini akan jauh lebih efektif membangun kualitas keintiman relasi Anda berdua, dibandingkan pendekatan yang menyerang balik (secara esensi mengatakan bahwa apa yang ia rasakan adalah suatu hal yang “tidak masuk akal”), mengabaikannya (mengekspresikan seolah-olah perasaan yang ia rasakan adalah suatu hal yang terlalu remeh untuk dirasakan), dan menceramahi (tidak mempedulikan perasaan dan hanya menanggapinya dengan 100% akal logis saja).

pc-logoInformasi lebih lanjut mengenai layanan Power Character bagi perusahaan, para pemimpin di perusahaan atau organisasi Anda, maupun keluarga Anda, silahkan klik di sini.

Penulis adalah kepala divisi pengembangan di Power Character, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Human Resource and Character management system, Character and leadership coach yang berkantor pusat di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s