Mengapa saya tidak keberatan lembur

overtimeclockJam sudah menunjukkan jam 8 malam.  Saya sedang makan malam bersama dengan anak dan istri saya di rumah.  Tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi dan sebuah pesan yang kira-kira berbunyi: “Ada proyek mendesak.  Kita sedang bersaing dengan 2 konsultan lain untuk membantu perusahaan x menentukan dan meng-coach calon CEO baru mereka.  Apa bisa membuatkan proposalnya segera?”

Perlu saya informasikan bahwa saya termasuk seseorang dengan tipe “family man”, jadi saya tidak akan mengorbankan waktu saya dengan keluarga hampir untuk apapun; dan proyek mendesak ini pun bukan pengecualian.  Karena itu saya menyanggupi untuk membuatkan proposal tersebut, namun saya tetap melanjutkan makan malam saya, kemudian bermain bersama Aletha (anak perempuan saya yang berumur 4 tahun), dan menemaninya hingga tidur.  Kemudian baru setelah itu saya mengerjakan proposal itu.  Pukul berapa saya selesai mengerjakan proposal itu? Pk.01.30 pagi!  Mungkin saya perlu memberikan konteks lagi.  Saya bukan termasuk orang yang suka bekerja keras.  Saya menyukai waktu-waktu tidur saya; dan saya jelas tidak termasuk kategori orang yang ambisius atau agresif dalam bekerja.  Tugas untuk membuat proposal itu bahkan tidak bersifat instruksi, melainkan pertanyaan apakah saya bersedia menolong.

Lalu apa yang membuat saya menyanggupinya dengan suka rela dan tanpa beban?

Fokus jawabannya bukan terletak pada saya sebagai anak buah, melainkan pada atasan saya.  Salah satu hasil penelitian lembaga pelatihan internasional yang bernama Dale Carnegie Training, menyebutkan bahwa ada 3 faktor yang mereka temukan memiliki peran besar dalam meningkatkan employee engagement (kulatas karyawan yang bersedia terlibat penuh dan memiliki rasa memiliki perusahaan yang kuat).

Relasi dengan atasan langsung
Saya memiliki atasan-atasan yang bersedia melatih dan mendedikasikan tenaga, waktu, dan bahkan uang mereka , sebelum saya dapat memberikan kontribusi yang setimpal bagi mereka.

Percaya pada keputusan-keputusan para senior atau atasan
Saya tidak selalu setuju dengan sudut pandang atasan-atasan saya.  Di dalam tim, bahkan saya dikenal sebagai orang yang tidak segan-segan mengemukakan pendapat saya kepada orang lain, termasuk kepada atasan.  Akan tetapi para senior dan atasan saya selalu menunjukkan sikap yang rendah hati, terbuka, bersedia mengakui kesalahan, bukan “pribadi yang maha benar dan maha tahu”, dan memiliki nilai-nilai hidup yang sangat saleh.

Kualitas-kualitas seperti itulah yang membuat saya untuk dapat selalu menempatkan rasa percaya terlebih dahulu sebelum mengkritisi keputusan-keputusan mereka.  Dalam situasi-situasi yang tidak mendesak, saya dapat dengan leluasa mengemukakan pikiran dan pendapat saya.  Akan tetapi dalam situasi mendesak, (seperti halnya pembuatan proposal malam ini) saya dengan leluasa dapat menempatkan pikiran bahwa mereka (para senior atau atasan saya) telah mengambil keputusan yang benar, lebih dahulu daripada pikiran-pikiran yang berusaha mengkritisi dan mempertanyakan keputusan-keputusan mereka.

Bangga berkontribusi bersama perusahaan
Saya telah melihat dan mengalami sendiri bagaimana pekerjaan-pekerjaan kami menolong dan memberkati para klien-klien kami.  Sering kali bahkan pekerjaan-pekerjaan kami bukan hanya memberkati bisnis mereka, melainkan juga hidup pribadi, keluarga, dan bahkan kualitas relasi spiritual dengan Tuhan mereka.  Menjadi bagian dari tim ini selalu adalah kebanggaan bagi diri saya.

Hal yang terbaik adalah bukan saja kami membantu banyak bisnis berkembang dan banyak pemimpin yang mampu meningkatkan employee engagement mereka; tapi saya sendiri merasakan apa yang kami ajarkan kepada orang lain.

Jadi kadang-kadang mungkin masalah yang perlu dijawab dalam employee engagement bukanlah bagaimana menemukan karyawan yang memiliki dedikasi yang tinggi.  Melainkan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang dapat menumbuhkan dedikasi yang tinggi di dalam diri orang-orang yang dipimpinnya.

pc-logoInformasi lebih lanjut mengenai layanan Power Character bagi perusahaan maupun para pemimpin di perusahaan atau organisasi Anda, silahkan klik di sini.

Penulis adalah kepala divisi pengembangan di Power Character, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Human Resource and Character management system, Character and leadership coach yang berkantor pusat di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s