Ini mungkin alasan tim Anda tidak menghasilkan kinerja optimal

tribune-taux-dependance-fournisseur-derniers-grands-mythes-achats-fPada tahun 2013, salah satu tim dari divisi human resources mengadakan penelitian yang ingin mengetahui jawaban dari sebuah pertanyaan sederhana, “Apa yang membuat sebuah tim Google menjadi efektif?”  Pada awalnya, setelah mengambil data lebih dari 200 karyawan dengan 250 indikator, mereka berasumsi bahwa faktor terbesar yang membuat sebuah tim yang efektif adalah tim yang terdiri dari orang-orang yang memiliki latar belakang keahlian dan karakter yang berbeda-beda, namun dapat saling melengkapi.  Namun setelah penelitian tersebut selesai, mereka menemukan bahwa hipotesa mereka salah.  Faktor terbesar yang menyebabkan sebuah tim kerja di Google menjadi sangat efektif adalah: Rasa aman.

Untuk memahami hal ini, mari saya jelaskan terlebih dahulu, konteks konsep pola kerja yang umumnya dipakai oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri kreatif, seperti Google, Apple, atau Microsoft.

Di Indonesia, kita lebih sering menemui pola kerja “piramida”, di mana atasan memberikan instruksi kerja, kemudian anak buah di divisi yang bersangkutan akan mengerjakan instruksi kerja itu sesuai dengan prosedur standar yang telah ditetapkan.  Sebaliknya apa yang terjadi di perusahaan-perusahaan industri kreatif itu, sebuah proyek baru, katakanlah untuk mengembangkan sebuah fitur baru khusus bagi segmentasi para enterpreneur muda di sebuah aplikasi, dikemukakan oleh pimpinan.  Kemudian masing-masing tim diberikan waktu untuk memberikan rancangan terbaik mereka.  Jadi dalam konteks ini, setiap tim dapat dikatakan memiliki pola kerjanya masing-masing.

Dalam konteks seperti inilah, tim HR Google tadi menemukan bahwa rasa aman adalah faktor penentu terbesar bagi tim kerja yang paling efektif.  Rasa aman yang dimaksud di sini, meliputi perasaan bebas untuk mengutarakan pendapat, bebas bertanya, bebas mencoba cara-cara baru yang mungkin asing atau terlihat beresiko, dan seterusnya.  Karena setiap tim mendapatkan kebebasan untuk mengelola pola kerjanya masing-masing, maka rasa aman yang kuat, akan membuat mereka dapat berkolaborasi dengan baik.

Kini pertanyaannya, apakah konsep rasa aman ini dapat diterapkan bulat-bulat di konteks kerja kita di Indonesia?

Saya pernah mengutarakan konsep yang serupa terhadap sekelompok staff dari sebuah perusahaan klien.  Kebanyakan mereka menjawab: “Tentu saja pak.  Kalau kami diberikan kebebasan mengenai bagaiamana kami harus bekerja dan jam berapa kami dapat atau harus bekerja, tentu hal itu akan sangat efektif dan menyemangati kami dalam bekerja.”  Kemudian saya mengutarakan konsep yang serupa kepada level supervisor atau pimpinan mereka, dan mereka berkata: “Tidak mungkin pak.  Jika hal itu dilakukan, maka mereka akan bekerja sak karepe dhewe (artinya: semaunya sendiri).”

Mungkin memang karena perbedaan standar latar belakang pendidikan formal dan standar pelatihan keterampilan yang ada di konteks perusahaan-perusahaan besar di luar negeri, seperti Google, Microsoft, atau Apple, dengan standar latar pendidikan dan pelatihan keterampilan yang ada di Indonesia, membuat kita tidak dapat memberikan “rasa aman dan kebebasan” yang sama.  Akan tetapi di sisi lain, hal inilah yang selalu memicu munculnya konflik antara pihak management dengan pihak karyawan.

Jadi apakah teori “rasa aman” ini sama sekali tidak dapat kita pakai di konteks bisnis di Indonesia?  Saya pikir masih bisa, namun dengan usaha kontekstualisasi yang lebih baik.

Secara prinsip, sebuah tim kerja yang solid; entah yang terdiri dari anggota-anggota dari satu divisi yang sama, seperti sebuah tim penjual (sales), tim design, atau yang terdiri dari beberapa divisi atau fungsi yang berbeda-beda, seperti antara tim penjualan dengan tim pembelian atau tim teknisi dengan tim penanganan keluhan; dibangun di atas dasar rasa percaya.  Dalam sudut pandang ilmu psikologi yang diintegrasikan dengan neuroscience, kualitas rasa percaya yang diberikan seseorang kepada orang lain, sangat dipengaruhi oleh apa yang timbul di “otak reptil” mereka.

“Otak reptil” adalah bagian otak yang secara umum, berfungsi sebagai radar untuk menentukan apakah sebuah stimulus (barang atau orang atau situasi tertentu) dinilai sebagai sumber ancaman atau sumber kebahagiaan.  Jika bagian otak seorang sales mengatakan bahwa orang-orang yang ada di divisi pembelian adalah orang-orang yang tidak pernah mengerti apa yang penting bagi perusahaan, maka akan sangat sulit bagi mereka untuk percaya pada apapun tanggapan dan keputusan dari tim pembelian.  Demikian juga salah seorang tim di divisi yang sama memiliki persepsi yang buruk terhadap salah seorang rekan kerjanya yang lain, maka walaupun mereka bekerja di dalam divisi yang sama, mereka akan kesulitan bekerja sebagai sebuah tim yang solid.

Lalu bagaimana menciptakan rasa aman di dalam “otak reptil” setiap anggota tim yang ada?

Menurut pengalaman saya di Power Character, integrasi pola pikir, pola pengelolaan emosi, pola komunikasi, pola tindakan, dan pola pengambilan keputusan yang diarahkan pada fondasi perusahaan (visi, misi, nilai-nilai perusahaan/company’s values dan seterusnya) adalah kunci strategisnya.

Namun secara personal, beberapa hal ini dapat membantu Anda untuk menciptakan rasa aman di “otak reptil” anak buah Anda:

  1. Perhatikan tonasi bicara Anda
    Tonasi yang tinggi dan keras, secara natural akan membuat otak reptil kebanyaan orang mempersepsi sedang dalam keadaan bahaya.  Oleh karena itu, umumnya tim Anda akan enggan berpendapat atau bahkan menantang Anda balik.
  2. Perhatikan ekspresi bahasa tubuh dan kata-kata yang Anda gunakan
    Bahasa tubuh dan kata-kata yang terlalu tajam dan kasar akan cenderung membuat otak reptil kebanyakan orang merasa sedang diserang.  Oleh karena itu, umumnya tim Anda akan lebih banyak berfokus pada rasa sakit hati yang ia rasakan daripada isi pembicaraan Anda.
  3. Perhatikan konsistensi arahan atau kepemimpinan Anda
    Ketika tim Anda merasa bahwa Anda adalah orang yang mudah berubah-ubah, mereka cenderung mempersepsi Anda sebagai seorang pemimpin yang semaunya sendiri; dan otak reptil kebanyakan orang akan merasa perubahan tanpa dasar adalah sesuatu yang membahayakan.
  4. Perhatikan bahasa tubuh, pendapat, dan umpan balik dari tim Anda
    Setiap orang akan merasa dan membutuhkan perasaan bahwa pendapat dan reaksi emosinya dianggap berarti.  Ketika tim Anda mempersepsi Anda sebagai orang yang tidak peduli terhadap pikiran dan perasaan orang lain, maka otak reptil kebanyakan orang akan mempersepsi Anda sebagai ancaman.

cropped-pc-logo.pngInformasi lebih lanjut mengenai layanan Power Character bagi persuahaan maupun para pemimpin di perusahaan atau organisasi Anda, silahkan klik di sini.

Penulis adalah kepala divisi pengembangan di Power Character, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Human Resource and Character management system, Character and leadership coach yang berkantor pusat di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s