Segala yang terukur akan dapat dikembangkan


performance_assessment_revisited_sm

“Segala yang terukur akan dapat dikembangkan.  Sebaliknya, segala yang tidak terukur akan sulit dikembangkan.”  Ini adalah kalimat yang mendasari segala prinsip manajerial.  Baik dalam mengelola (managing) barang, orang, situasi, dalam konteks bisnis, maupun pelayanan.

Jadi bagaimana Anda mengukur performa bisnis Anda?  Konsep Balance score card yang ditemukan sekitar tahun 1987 memperkenalkan setidaknya 4 sudut pandang atau aspek yang sebaiknya dipertimbangkan oleh setiap manajer atau pemilik bisnis.  Anda dapat mempelajari konsep ini secara gratis di internet.  Akan tetapi secara singkat, keempat sudut pandang itu adalah: aspek finansial (seperti cash flow bisnis Anda), aspek proses internal bisnis (seperti seberapa efektif dan efisien proses kerja tim atau divisi-divisi di dalam perusahaan Anda), aspek marketing (seperti seberapa kuat brand power atau penetrasi pasar bisnis Anda), dan aspek human capital (seperti seberapa terampil para pekerja Anda menggunakan seluruh sistem, perlatan, dan metode kerja yang dibutuhkan perusahaan Anda).

Sayangnya banyak perusahaan-perusahaan yang sekedar meng-“copy paste” metode dan teknik pengukuran dari perusahaan-perusahaan di negara-negara Barat yang memiliki konteks kekuatan finansial, teknologi, dan sumber daya manusia yang bisa sangat berbeda dengan yang terjadi di dalam perusahaan mereka sendiri.  Lebih lagi untuk benar-benar mengimplementasikan dan mengukur keempat sudut pandang berdasarkan template dari perusahaan-perusahaan luar negeri itu, cenderung membutuhkan waktu, sumber daya, dan dana yang relatif tidak sedikit; dan pengalaman kami menunjukkan bahwa tidak semua kondisi bisnis langsung mampu menerapkan keempat hal itu.

Di samping itu, tergantung pada jenis industrinya, para pemimpin bisnis, biasanya hanya mengambil 3 hingga 3 sudut pandang saja.  Bisnis yang fokus bisnisnya lebih banyak berhubungan dengan penjualan, akan lebih memusatkan perhatian pada elemen finansial dan marketing.  Sedangkan bisnis yang fokus bisnisnya lebih banyak berhubungan dengan proses produksi (baik jasa maupun barang), akan lebih banyak menekankan pada aspek finansial dan proses internal.  Dalam banyak kasus, kami mendapati bahwa aspek SDM sering kali menjadi aspek yang dianggap kurang berhubungan langsung dengan kesuksesan bisnis.

Namun bisnis yang mengabaikan aspek kapasitas dan pengembangan sumber daya manusia ini akan sering mengalami kendala dalam hal: regenerasi kepemimpinan, tidak memiliki jumlah SDM dengan kapasitas yang memadai untuk mengimbangi kecepatan aspek marketing, tidak mampu menduplikasi kesuksesan orang-orang terunggulnya, dan seterusnya.

Jadi bagaimana Anda dapat menciptakan ukuran untuk mengukur kualitas Human Capital bisnis Anda sesuai dengan konteks unik situasi dan kebutuhan bisnis Anda? Continue reading “Segala yang terukur akan dapat dikembangkan”

Science membuktikan hubungan antara emosi dengan fisik

f2-large

Pernahkah Anda mempertanyakan mengapa ketika kita merasa sakit hati, daerah di dada kita benar-benar terasa sakit atau seperti ada yang menekan?  Pengalaman ini tentu bukan bersifat mitos atau dipengaruhi oleh budaya.  Setiap orang dari generasi apapun dan dari kebudayaan apapun akan mengalami hal yang sama.  Inilah salah satu hal yang menyebabkan mengapa banyak ekspresi emosi manusia yang dapat bersifat universal (artinya dapat ditafsirkan walaupun mengalami keterbatasan bahasa verbal).

Akan tetapi selama bertahun-tahun hubungan antara emosi dan ekspresi atau aktivitas otomatis fisik ini belum pernah dapat benar-benar digolongkan dan dibuktikan secara scientific.  Inilah yang berusaha dilakukan oleh Riitta Hari dan tim yang mempublikasikan penelitiannya di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America.

Dalam penelitian yang melibatkan 701 orang ini, setiap peserta diperhadapkan pada stimulus (seperti film, cerita pendek yang membangkitkan imajinasi dan emosi, kata-kata yang emosional, dan melihat ekspresi aktor secara nyata) lalu diminta untuk mengevaluasi sensasi yang ia rasakan di dalam dirinya sendiri dan memasukkan data itu ke dalam sistem komputer untuk menghasilkan analisa “peta sensasi tubuh”, seperti yang tergambar di atas.

Hal ini dimungkinkan terjadi karena Tuhan telah menciptakan sebuah sistem yang para peneliti namakan dengan “somatosensory system“.  Sistem ini berfungsi agar otak kita dapat mempersepsi data-data yang diterimanya dari: sentuhan, tekanan, rasa sakit, suhu, posisi, dan pergerakan otot, kulit, dan seterusnya.  Melalui sistem inilah, emosi yang abstrak dapat “mengambil bentuk” yang dapat kita rasakan secara fisik dan bahkan (melalui kecanggihan teknologi) dapat kita amati secara visual.

Lalu apa aplikasi pengetahuan ini bagi kita orang awam? Continue reading “Science membuktikan hubungan antara emosi dengan fisik”

Mengantisipasi kuatir menjadi aksi

200710-omag-jitters-600x411

Ini bukan pertama kalinya saya mendengar berita-berita seperti ini.  Juga bukan pertama kalinya saya berada di tempat dan waktu yang dekat dengan kejadian-kejadian seperti ini.  Namun entah kenapa, hari itu, saya merasa khawatir.  Di kepala saya terbayang imajinasi-imajinasi mengenai orang-orang yang cenderung main hakim sendiri itu bertindak tidak adil dan berlaku anarkis.

Hari itu, selama setidaknya setengah hari, saya sulit fokus, cenderung lesu, dan sensitif.

Kekhawatiran dapat merengut energi kehidupan kita.  Secara biologis, rasa khawatir disebabkan oleh “otak reptil” Anda yang mengeluarkan sinyal tanda bahaya.  Sinyal ini memicu munculnya hormon Kortisol.  Dalam keadaan normal, hormon ini justru membuat mental dan pikiran kita dapat fokus dan produktif.  Namun ketika berlebihan, hormon ini justru memaksa seluruh metabolisme dan keadaan mental kita memasuki mode bertahan hidup.  Dalam keadaan seperti ini, umumnya seseorang akan merasakan dorongan yang luar biasa untuk melakukan segala cara (termasuk hal-hal yang irasional) untuk segera keluar dari “keadaan bahaya” tadi.  Akibatnya, kita dapat berperilaku nekat, gegabah dalam mengambil keputusan, emosional, depresi, bahkan sakit karena daya tahan tubuh yang menurun. Continue reading “Mengantisipasi kuatir menjadi aksi”

Mengatasi perbedaan dengan pasangan

10-7_terenceKetika sedang belajar mengenai konseling keluarga, ada satu contoh kasus menarik, lucu, sekaligus terasa tidak masuk akal, yang terus saya ingat hingga sekarang.  Dikisahkan sepasang suami istri memutuskan untuk bercerai; dan setelah ditanya mengenai penyebabnya, sang istri mengatakan: “Dia (sang suami) selalu mengeluarkan pasta gigi sembarangan.”  Merasa tidak terima, sang suami langsung menyahut, “Bukan sembarangan!  Dia yang terlalu perfeksionis!  Dia selalu MENGHARUSKAN mengeluarkan pasta gigi dari bawah!”

Sungguh konyol bukan?  Nah, anggap saja kisah di atas hanyalah sebuah ilustrasi.  Akan tetapi konsep yang sama, dapat kita lihat di topik-topik yang lain.  Pihak yang satu berharap, hari ulang tahun adalah sebuah momen spesial yang harus dipersiapkan dengan baik untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang spesial.  Namun di hari itu, pasangannya hanya mengucapkan selamat ulang tahun melalui handphone.  Sang ibu menekankan bahwa anaknya harus berani bermain sendiri dan aktif menyapa dan tersenyum ketika bertemu dengan orang lain.  Namun sang ayah merasa, bahwa walaupun hal-hal itu adalah baik, tapi tidak perlu mendapatkan prioritas yang berlebihan.

Perbedaan-perbedaan ini dapat berada di topik yang lebih abstrak, seperti: perbedaan ekspektasi tentang arti keintiman di antara sepasang suami istri, perbedaan ekspektasi mengenai arti kemapanan, tubuh atau hidup yang sehat, dan seterusnya.  Perbedaan-perbedaan ekspektasi ini dapat menghancurkan keutuhan rumah tangga yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Saya selalu mengajarkan bahwa pernikahan bukanlah seperti menaruh buah apel dan buah jeruk di keranjang yang sama.  Itu hanya akan berarti sekedar tinggal serumah.  Pernikahan berarti mem-blender kedua buah itu dan mencampurnya sehingga menciptakan sebuah rasa yang baru.  Jadi pernikahan adalah sebuah media yang dipakai Tuhan untuk melatih kita mengatasi perbedaan dalam situasi yang terberat (hidup & tinggal serumah sebagai “satu tubuh”).

Tetapi apakah semua perbedaan dapat menghasilkan konflik yang tajam seperti itu? Continue reading “Mengatasi perbedaan dengan pasangan”

Ternyata gaji/income bukan penentu utama “engagement” karyawan

what-is-employee-engagementSebuah penelitian yang dilakukan pada awal dan akhir tahun 2015 di Jerman, menunjukkan bahwa menurut pandangan para pekerja, kondisi perekonomian mereka secara umum sedang dalam kondisi yang cukup baik.  Sekitar 57% dari hampir 1500 responden mengatakan bahwa kualitas hidup mereka berada di atas status “sekedar bertahan” (Thriving. Not merely surviving).  77% setuju atau bahkan sangat setuju bahwa perusahaan mereka memiliki masa depan yang sangat baik.  Bukan hanya itu, 73% mengatakan cukup puas dengan perusahaan tempat mereka bekerja, dan sekitar 64% setuju bahwa mereka menerima kompensasi (gaji, bonus, dst) yang setimpal.

Walaupun demikian, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa 68% dari para responden tidak memiliki engagement yang baik teradap perusahaan maupun pekerjaan mereka.  48% merasa stres.  69% merasa tidak produktif.  89% cenderung merasa bosan, jenuh, atau tidak gembira dalam melakukan pekerjaan mereka selama seminggu terakhir, dan 58% merasa kelelahan, kepayahan, atau burn out selama sebulan terakhir.

Dampak dari para pekerja yang tidak engage ini, antara lain adalah: meningkatnya jumlah hari tidak masuk mereka, 97% merasa tidak akan merekomendasikan perusahaan tempat mereka bekerja kepada keluarga atau teman-teman mereka, bahkan 85% merasa cenderung tidak akan merekomendasikan produk atau jasa perusahaan tempat mereka bekerja ke orang lain.  Ini artinya, kelompok ini cenderung tidak akan memberikan seluruh kemampuan, pikiran, tenaga, dan passion dalam pekerjaan mereka.

Apakah data statistik ini, secara konsep, dapat berlaku juga di Indonesia? Continue reading “Ternyata gaji/income bukan penentu utama “engagement” karyawan”

Anda terbiasa memberi makan emosi pasangan Anda?

2-1Suatu malam saya baru saja pulang dari perjalanan bisnis selama setengah minggu.  Seperti biasa, begitu sampai di rumah, saya memanggil anak saya dengan panggilan khusus: “Anaknya pop!” dan Aletha (putri saya yang berumur 4 tahun) langsung berteriak membalas panggilan saya dari dalam rumah “Popiii!”.  Setelah saya selesai mandi, tiba waktunya untuk menemani Aletha tidur.  Sebelum saya naik ke tempat tidur, saya duduk di ujung ranjang, minum air putih dari botol minum besar yang biasa kami tempatkan di samping ranjang dan menghela nafas agak panjang.

“Kenapa yang?” istri saya bertanya.
“Nggak papa.  Cuma capek.” jawab saya.  “Capek kenapa?” tanya istri saya lagi.  Kemudian kami berbincang beberapa menit, sebelum akhirnya kami menemani Aletha tidur.

Perbincangan singkat itu, walaupun tidak serta merta membuat kelelahan saya hilang, namun membuat saya selalu bersyukur karena telah memiliki pasangan hidup; dan disadari atau tidak, pemenuhan-pemenuhan kebutuhan emosi yang kecil namun sering kali itulah yang bukan hanya mempertahankan, namun memperkuat kualitas keintiman di dalam keluarga kami.

Bagaimana bisa?  Inilah alasan ilmiahnya. Continue reading “Anda terbiasa memberi makan emosi pasangan Anda?”

Mengapa saya tidak keberatan lembur

overtimeclockJam sudah menunjukkan jam 8 malam.  Saya sedang makan malam bersama dengan anak dan istri saya di rumah.  Tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi dan sebuah pesan yang kira-kira berbunyi: “Ada proyek mendesak.  Kita sedang bersaing dengan 2 konsultan lain untuk membantu perusahaan x menentukan dan meng-coach calon CEO baru mereka.  Apa bisa membuatkan proposalnya segera?”

Perlu saya informasikan bahwa saya termasuk seseorang dengan tipe “family man”, jadi saya tidak akan mengorbankan waktu saya dengan keluarga hampir untuk apapun; dan proyek mendesak ini pun bukan pengecualian.  Karena itu saya menyanggupi untuk membuatkan proposal tersebut, namun saya tetap melanjutkan makan malam saya, kemudian bermain bersama Aletha (anak perempuan saya yang berumur 4 tahun), dan menemaninya hingga tidur.  Kemudian baru setelah itu saya mengerjakan proposal itu.  Pukul berapa saya selesai mengerjakan proposal itu? Pk.01.30 pagi!  Mungkin saya perlu memberikan konteks lagi.  Saya bukan termasuk orang yang suka bekerja keras.  Saya menyukai waktu-waktu tidur saya; dan saya jelas tidak termasuk kategori orang yang ambisius atau agresif dalam bekerja.  Tugas untuk membuat proposal itu bahkan tidak bersifat instruksi, melainkan pertanyaan apakah saya bersedia menolong.

Lalu apa yang membuat saya menyanggupinya dengan suka rela dan tanpa beban? Continue reading “Mengapa saya tidak keberatan lembur”